Monumen Nasional

Monumen Nasional
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari
Monumen Nasional

Monumen Nasional
Informasi umum
Lokasi Jakarta Pusat, Indonesia

Alamat Jalan Lapangan Monas
Dimulai 17 Agustus 1961

Selesai 12 Juli 1975

Diresmikan 12 Juli 1975

Ketinggian 132 meter
Desain dan pembangunan
Kontraktor utama P.N. Adhi Karya
(tiang fondasi)
Arsitek Frederich Silaban,
R.M. Soedarsono
Monumen Nasional atau yang populer disingkat dengan Monas atau Tugu Monas adalah monumen peringatan setinggi 132 meter (433 kaki) yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Pembangunan monumen ini dimulai pada tanggal 17 Agustus 1961 di bawah perintah presiden Sukarno, dan dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975. Tugu ini dimahkotai lidah api yang dilapisi lembaran emas yang melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala. Monumen Nasional terletak tepat di tengah Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat. Monumen dan museum ini dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 – 15.00 Waktu Indonesia Barat. Pada hari Senin pekan terakhir setiap bulannya ditutup untuk umum.
Daftar isi
[sembunyikan]
1 Sejarah
2 Pembangunan
3 Rancang Bangun Monumen
4 Relief Sejarah Indonesia
5 Museum Sejarah Nasional
6 Ruang Kemerdekaan
7 Pelataran Puncak dan Api Kemerdekaan
8 Galeri
9 Referensi
10 Catatan kaki
11 Pranala luar

[sunting] Sejarah
Setelah pusat pemerintahan Republik Indonesia kembali ke Jakarta setelah sebelumnya berkedudukan di Yogyakarta pada tahun 1950 menyusul pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh pemerintah Belanda pada tahun 1949, Presiden Sukarno mulai memikirkan pembangunan sebuah monumen nasional yang setara dengan Menara Eiffel di lapangan tepat di depan Istana Merdeka. Pembangunan tugu Monas bertujuan mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terus membangkitkan inspirasi dan semangat patriotisme generasi saat ini dan mendatang.
Pada tanggal 17 Agustus 1954 sebuah komite nasional dibentuk dan sayembara perancangan monumen nasional digelar pada tahun 1955. Terdapat 51 karya yang masuk, akan tetapi hanya satu karya yang dibuat oleh Frederich Silaban yang memenuhi kriteria yang ditentukan komite, antara lain menggambarkan karakter bangsa Indonesia dan dapat bertahan selama berabad-abad. Sayembara kedua digelar pada tahun 1960 tapi sekali lagi tak satupun dari 136 peserta yang memenuhi kriteria. Ketua juri kemudian meminta Silaban untuk menunjukkan rancangannya kepada Sukarno. Akan tetapi Sukarno kurang menyukai rancangan itu dan ia menginginkan monumen itu berbentuk lingga dan yoni. Silaban kemudian diminta merancang monumen dengan tema seperti itu, akan tetapi rancangan yang diajukan Silaban terlalu luar biasa sehingga biayanya sangat besar dan tidak mampu ditanggung oleh anggaran negara, terlebih kondisi ekonomi saat itu cukup buruk. Silaban menolak merancang bangunan yang lebih kecil, dan menyarankan pembangunan ditunda hingga ekonomi Indonesia membaik. Sukarno kemudian meminta arsitek R.M. Soedarsono untuk melanjutkan rancangan itu. Soedarsono memasukkan angka 17, 8 dan 45, melambangkan 17 Agustus 1945 memulai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ke dalam rancangan monumen itu.[1][2][3] Tugu Peringatan Nasional ini kemudian dibangun di areal seluas 80 hektar. Tugu ini diarsiteki oleh Friedrich Silaban dan R. M. Soedarsono, mulai dibangun 17 Agustus 1961.
[sunting] Pembangunan

Sukarno menginspeksi pembangunan Monas. Foto ini dibuat sekitar tahun 1963-1964.
Pembangunan terdiri atas tiga tahap. Tahap pertama, kurun 1961/1962 – 1964/1965 dimulai dengan dimulainya secara resmi pembangunan pada tanggal 17 Agustus 1961 dengan Sukarno secara seremonial menancapkan pasak beton pertama. Total 284 pasak beton digunakan sebagai fondasi bangunan. Sebanyak 360 pasak bumi ditanamkan untuk fondasi museum sejarah nasional. Keseluruhan pemancangan fondasi rampung pada bulan Maret 1962. Dinding museum di dasar bangunan selesai pada bulan Oktober. Pembangunan obelisk kemudian dimulai dan akhirnya rampung pada bulan Agustus 1963. Pembangunan tahap kedua berlangsung pada kurun 1966 hingga 1968 akibat terjadinya Gerakan 30 September 1965 (G-30-S/PKI) dan upaya kudeta, tahap ini sempat tertunda. Tahap akhir berlangsung pada tahun 1969-1976 dengan menambahkan diorama pada museum sejarah. Meskipun pembangunan telah rampung, masalah masih saja terjadi, antara lain kebocoran air yang menggenangi museum. Monumen secara resmi dibuka untuk umum dan diresmikan pada tanggal 12 Juli 1975 oleh Presiden Republik Indonesia Soeharto.[4][5] Lokasi pembangunan monumen ini dikenal dengan nama Medan Merdeka. Lapangan Monas mengalami lima kali penggantian nama yaitu Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas. Di sekeliling tugu terdapat taman, dua buah kolam dan beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga. Pada hari-hari libur Medan Merdeka dipenuhi pengunjung yang berekreasi menikmati pemandangan Tugu Monas dan melakukan berbagai aktivitas dalam taman.
[sunting] Rancang Bangun Monumen
Rancang bangun Tugu Monas berdasarkan pada konsep pasangan universal yang abadi; Lingga dan Yoni. Tugu obelisk yang menjulang tinggi adalah lingga yang melambangkan laki-laki, elemen maskulin yang bersifat aktif dan positif, serta melambangkan siang hari. Sementara pelataran cawan landasan obelisk adalah Yoni yang melambangkan perempuan, elemen feminin yang pasif dan negatif, serta melambangkan malam hari.[6] Lingga dan yoni merupakan lambang kesuburan dan kesatuan harmonis yang saling melengkapi sedari masa prasejarah Indonesia. Selain itu bentuk Tugu Monas juga dapat ditafsirkan sebagai sepasang “alu” dan “Lesung”, alat penumbuk padi yang didapati dalam setiap rumah tangga petani tradisional Indonesia. Dengan demikian rancang bangun Monas penuh dimensi khas budaya bangsa Indonesia. Monumen terdiri atas 117,7 meter obelisk di atas landasan persegi setinggi The 17 meter, pelataran cawan. Monumen ini dilapisi dengan marmer Italia.
Kolam di Taman Medan Merdeka Utara berukuran 25 x 25 meter dirancang sebagai bagian dari sistem pendingin udara sekaligus mempercantik penampilan Taman Monas. Di dekatnya terdapat kolam air mancur dan patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggang kudanya, terbuat dari perunggu seberat 8 ton. Patung itu dibuat oleh pemahat Italia, Prof. Coberlato[7] sebagai sumbangan oleh Konsulat Jendral Honores, Dr Mario Bross di Indonesia. Pintu masuk Monas terdapat di taman Medan Merdeka Utara dekat patung Pangeran Diponegoro. Pintu masuk melalui terowongan yang berada 3 m di bawah taman dan jalan silang Monas inilah, pintu masuk pengunjung menuju tugu Monas. Loket tiket berada di ujung terowongan. Ketika pengunjung naik kembali ke permukaan tanah di sisi utara Monas, pengunjung dapat melanjutkan berkeliling melihat relief sejarah perjuangan Indonesia; masuk ke dalam museum sejarah nasional melalui pintu di sudut timur laut, atau langsung naik ke tengah menuju ruang kemerdekaan atau lift menuju pelataran puncak monumen.
[sunting] Relief Sejarah Indonesia

Relief timbul sejarah Indonesia menampilkan Gajah Mada dan sejarah Majapahit
Pada halaman luar mengelilingi monumen, pada tiap sudutnya terdapat relief timbul yang menggambarkan sejarah Indonesia. Relief ini bermula di sudut timur laut dengan mengabadikan kejayaan Nusantara pada masa lampau; menampilkan sejarah Singhasari dan Majapahit. Relief ini berlanjut secara kronologis searah jarum jam menuju sudut tenggara, barat daya, dan barat laut. Secara kronologis menggambarkan masa penjajahan Belanda, perlawanan rakyat Indonesia dan pahlawan-pahlawan nasional Indonesia, terbentuknya organisasi modern yang memperjuangkan Indonesia Merdeka pada awal abad ke-20, Sumpah Pemuda, Pendudukan Jepang dan Perang Dunia II, proklamasi kemerdekaan Indonesia disusul Revolusi dan Perang kemerdekaan Republik Indonesia, hingga mencapai masa pembangunan Indonesia modern. Relief dan patung-patung ini dibuat dari semen dengan kerangka pipa atau logam, sayang sekali beberapa patung dan arca mulai rontok dan rusak akibat hujan dan cuaca tropis.
[sunting] Museum Sejarah Nasional

Pelajar memperhatikan diorama sejarah Indonesia
Di bagian dasar monumen pada kedalaman 3 meter di bawah permukaan tanah, terdapat Museum Sejarah Nasional Indonesia. Ruang besar museum sejarah perjuangan nasional dengan ukuran luas 80 x 80 meter, dapat menampung pengunjung sekitar 500 orang. Ruangan besar berlapis marmer ini terdapat 48 diorama pada keempat sisinya dan 3 diorama di tengah, sehingga menjadi total 51 diorama. Diorama ini menampilkan sejarah Indonesia sejak masa pra sejarah hingga masa Orde Baru. Diorama ini dimula dari sudut timur laut bergerak searah jarum jam menelusuri perjalanan sejarah Indonesia; mulai masa pra sejarah, masa kemaharajaan kuno seperti Sriwijaya dan Majapahit, disusul masa penjajahan bangsa Eropa yang disusul perlawanan para pahlawan nasional pra kemerdekaan melawan VOC dan pemerintah Hindia Belanda. Diorama berlangsung terus hingga masa pergerakan nasional Indonesia awal abad ke-20, pendudukan Jepang, perang kemerdekaan dan masa revolusi, hingga masa Orde Baru pada masa pemerintahan Suharto.
[sunting] Ruang Kemerdekaan

Ruang kemerdekaan
Di bagian dalam cawan monumen terdapat Ruang Kemerdekaan berbentuk amphitheater. Ruangan ini dapat dicapai melalui tangga berputar di dari pintu sisi utara dan selatan. Ruangan ini menyimpan simbol kenegaraan dan kemerdekaan Republik Indonesia. Diantaranya naskah asli Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang disimpan dalam kotak kaca di dalam gerbang berlapis emas, lambang negara Indonesia, peta kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia berlapis emas, dan bendera merah putih, dan dinding yang bertulis naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.[1][8]. Di dalam Ruang Kemerdekaan Monumen Nasional ini digunakan sebagai ruang tenang untuk mengheningkan cipta dan bermeditasi mengenang hakikat kemerdekaan dan perjuangan bangsa Indonesia. Naskah asli proklamasi kemerdekaan Indonesia disimpan dalam kotak kaca dalam pintu gerbang berlapis emas. Pintu mekanis ini terbuat dari perunggu seberat 4 ton berlapis emas dihiasi ukiran bunga Wijaya Kusuma yang melambangkan keabadian, serta bunga Teratai yang melambangkan kesucian. Pintu ini terletak pada dinding sisi barat tepat di tengah ruangan dan berlapis marmer hitam. Pintu ini dikenal dengan nama Gerbang Kemerdekaan yang secara mekanis akan membuka seraya memperdengarkan lagu “Padamu Negeri” diikuti kemudian oleh rekaman suara Sukarno tengah membacakan naskah proklamasi pada 17 Agustus 1945. Pada sisi selatan terdapat patung Garuda Pancasila, lambang negara Indonesia terbuat dari perunggu seberat 3,5 ton dan berlapis emas. Pada sisi timur terdapat tulisan naskah proklamasi berhuruf perunggu, seharusnya sisi ini menampilkan bendera yang paling suci dan dimuliakan Sang Saka Merah Putih, yang aslinya dikibarkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Akan tetapi karena kondisinya sudah semakin tua dan rapuh, bendera suci ini tidak dipamerkan. Sisi utara diding marmer hitam ini menampilkan kepulauan Nusantara berlapis emas, melambangkan lokasi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
[sunting] Pelataran Puncak dan Api Kemerdekaan

Pelataran setinggi 115 meter tempat pengunjung dapat menikmati panorama Jakarta dari ketinggian
Sebuah elevator (lift) pada pintu sisi selatan akan membawa pengunjung menuju pelataran puncak berukuran 11 x 11 meter di ketinggian 115 meter dari permukaan tanah. Lift ini berkapasitas 11 orang sekali angkut. Pelataran puncak ini dapat menampung sekitar 50 orang, serta terdapat teropong untuk melihat panorama Jakarta lebih dekat. Pada sekeliling badan elevator terdapat tangga darurat yang terbuat dari besi. Dari pelataran puncak tugu Monas, pengunjung dapat menikmati pemandangan seluruh penjuru kota Jakarta. Bila kondisi cuaca cerah tanpa asap kabut, di arah ke selatan terlihat dari kejauhan Gunung Salak di wilayah kabupaten Bogor, Jawa Barat, arah utara membentang laut lepas dengan pulau-pulau kecil.
Di puncak Monumen Nasional terdapat cawan yang menopang nyala obor perunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton dan dilapisi emas 35 Kilogram. Lidah api atau obor ini berukuran tinggi 14 meter dan berdiameter 6 meter terdiri dari 77 bagian yang disatukan. Lidah api ini sebagai simbol semangat perjuangan rakyat Indonesia yang ingin meraih kemerdekaan. Awalnya nyala api perunggu ini dilapisi lembaran emas seberat 35 kilogram[1], akan tetapi untuk menyambut perayaan setengah abad (50 tahun) kemerdekaan Indonesia pada tahun 1995, lembaran emas ini dilapis ulang sehingga mencapai berat 50 kilogram lembaran emas.[9] Puncak tugu berupa “Api Nan Tak Kunjung Padam” yang bermakna agar Bangsa Indonesia senantiasa memiliki semangat yang menyala-nyala dalam berjuang dan tidak pernah surut atau padam sepanjang masa. Pelataran cawan memberikan pemandangan bagi pengunjung dari ketinggian 17 meter dari permukaan tanah. Pelataran cawan dapat dicapai melalui elevator ketika turun dari pelataran puncak, atau melalui tangga mencapai dasar cawan. Tinggi pelataran cawan dari dasar 17 meter, sedangkan rentang tinggi antara ruang museum sejarah ke dasar cawan adalah 8 m (3 meter dibawah tanah ditambah 5 meter tangga menuju dasar cawan). Luas pelataran yang berbentuk bujur sangkar, berukuran 45 x 45 meter, semuanya merupakan pelestarian angka keramat Proklamasi Kemerdekaan RI (17-8-1945).
Sebanyak 38 kg emas pada obor monas tersebut merupakan sumbangan dari Teuku Markam, seorang ‘Aceh’ yang pernah menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia.[10]
[sunting] Galeri

Museum Sejarah Nasional Indonesia di kaki monumen.

Diorama sejarah Indonesia di dalam museum.

Kolam pantul Monas di Taman Medan Merdeka Monas.

Monas di kala malam.

Dewi Pertiwi

Garuda Pancasila di dalam Ruang Kemerdekaan Monas.

Naskah asli Proklamasi Kemerdekaan Indonesia disimpan di Ruang Kemerdekaan Monas.

Peta Nusantara berlapis emas di dalam Ruang Kemerdekaan.
[sunting] Referensi
Heuken, A, (2008) Medan Merdeka – Jantung Ibukota RI, Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta, No ISBN
Jakarta Local Government website: Museums in Jakarta
National Monument Office, Jakarta Capital City Administration (1996), National Monument: The Monument of the Indonesian National Struggle ISBN 979-95172-0-6
[sunting] Catatan kaki
1. ^ a b c Heuken (2008) p25
2. ^ National monument Office, Jakarta (1996) pp. 3-9
3. ^ Tinggi cawan dari halaman adalah 17 meter, lebar dasar monumen adalah 8 meter, serta lebar halaman cawan adalah 45 meter
4. ^ National monument Office, Jakarta (1996) pp. 12-23
5. ^ Jakarta Administration website
6. ^ Monument Nasional brochure; Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Unit Pengelola Monumen Nasional
7. ^ National monument Office, Jakarta (1996) pp. 28-29
8. ^ National monument Office, Jakarta (1996) pp. 24-28
9. ^ National monument Office, Jakarta (1996) p28
10. ^ Teuku Markam
[sunting] Pranala luar
Wikimedia Commons memiliki kategori mengenai Monumen Nasional

(Indonesia) Informasi tentang Monas di situs web resmi Pemerintah Provinsi Jakarta
l • b • s
Museum di Jakarta

Jakarta Pusat
Gedung Joang ’45 • Gedung Kesenian Jakarta • Gedung Mohammad Hoesni Thamrin • Planetarium Jakarta • Monumen Nasional • Museum Adam Malik • Museum Anatomy Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia • Museum Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution • Museum Kebangkitan Nasional • Museum Nasional Indonesia atau Museum Gajah • Museum Pers ANTARA • Museum Perumusan Naskah Proklamasi • Museum Puri Bhakti Renatama • Museum Sasmita Loka Ahmad Yani • Museum Sumpah Pemuda • Museum Taman Prasasti • Museum Tekstil • Museum Tosan Aji • Galeri Nasional Indonesia

Jakarta Barat
Bentara Budaya Jakarta • Museum 12 Mei Universitas Trisakti • Musuem Bank Indonesia • Museum Bank Mandiri • Museum Fatahillah • Museum Lukisan Universitas Pelita Harapan • Museum Seni Rupa dan Keramik • Museum Wayang • Terminal Kalibesar • Terminal Kalideres

Jakarta Selatan
Museum Dirgantara Mandala • Museum Harry Darsono • Museum Kriminal (Mabak) • Museum Layang-Layang • Museum Manggala Wanabhakti • Museum Polri • Museum Reksa Artha • Museum Satria Mandala • Museum Waspada Purbawisesa

Jakarta Timur
Bayt Al Qur’an dan Museum Istiqlal • Monumen Pancasila Sakti • Museum Asmat • Museum Fauna Indonesia • Museum Komodo dan Taman Reptil • Museum Indonesia • Museum Keprajuritan Indonesia • Museum Listrik dan Energi Baru • Museum Loka Jala Srana • Museum Minyak dan Gas Bumi • Museum Olahraga • Museum Penerangan • Museum Pengkhianatan PKI • Museum Prangko Indonesia • Museum Pusaka • Museum Purna Bhakti Pertiwi • Museum Serangga dan Taman Kupu-Kupu • Museum Telekomunikasi • Museum Timor Timur • Museum Transportasi • Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Taknologi • Taman Aquarium Air Tawar

Jakarta Utara
Museum Bahari • Museum Laut Ancol • Museum Pulau Onrust

MARS KESEHATAN ANGKATAN DARAT & Visi dan Misi Pusdikkes Kodiklat TNI AD

MARS KESEHATAN ANGKATAN DARAT
Kesehatan Angkatan Darat milik kita
Hesti Wira Sakti Lambangnya
Bawalah Semangat membara dalam jiwa
Cita Suci Setiap Masa
Kita S’lalu siap mengabdi dan berbakti
Bagi pembangunan negara
Membina kesehatan dan menjaga jiwa raga
Di jajaran Angkatan Darat
Reff :
Hiduplah Kesehatan Angkatan Darat
Harum Wangi di Nusantara
Tanpa ragu hadir dimanapun jua
jaya kesehatan Angkatan Darat
dengan semangat berkobar didalam dada
Tanpa pamrih jujur satria
Sapta Marga tetaplah pedomannya
Dalam menunaikan tugasnya
dukungan kesehatan dalam medan laga
jadikan pengabdian mulia
Demi bangsa dan negara berazas pancasila
Berkat naungan Maha Esa

Visi dan Misi Pusdikkes Kodiklat TNI AD
Visi

Menjadi nara sumber untuk Kesehatan Lapangan di jajaran TNI Angkatan Darat/TNI serta menjadi wadah pembentukan Prajurit Kesehatan TNI Angkatan Darat yang profesional dan disiplin.
Misi.
• Menumbuhkan jiwa korsa, kejuangan, kebanggaan, dan kesadaran sebagai Prajurit Kesehatan.
• Memberikan bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan lapangan penugasan.
• Menjadikan Prajurit Kesehatan yang mampu bertugas di segala situasi dan kondisi.
• Menyelenggarakan kegiatan pendidikan, penelitian dan pengembangan yang bermutu.

Sejarah Kota Samarinda

Pada saat pecah perang Gowa, pasukan Belanda di bawah Laksamana Speelman memimpin angkatan laut menyerang Makasar dari laut, sedangkan Arupalaka yang membantu Belanda menyerang dari daratan. Akhirnya Kerajaan Gowa dapat dikalahkan dan Sultan Hasanudin terpaksa menandatangani perjanjian yang dikenal dengan ” PERJANJIAN BONGAJA” pada tanggal 18 Nopember 1667.

Sebagian orang-orang Bugis Wajo dari kerajaan Gowa yang tidak mau tunduk dan patuh terhadap isi perjanjian Bongaja tersebut, mereka tetap meneruskan perjuangan dan perlawanan secara gerilya melawan Belanda dan ada pula yang hijrah ke pulau-pulau lainnya diantaranya ada yang hijrah ke daerah kerajaan Kutai, yaitu rombongan yang dipimpin oleh Lamohang Daeng Mangkona (bergelar Pua Ado yang pertama). Kedatangan orang-orang Bugis Wajo dari Kerajan Gowa itu diterima dengan baik oleh Sultan Kutai.

Atas kesepakatan dan perjanjian, oleh Raja Kutai rombongan tersebut diberikan lokasi sekitar kampung melantai, suatu daerah dataran rendah yang baik untuk usaha Pertanian, Perikanan dan Perdagangan. Sesuai dengan perjanjian bahwa orang-orang Bugis Wajo harus membantu segala kepentingan Raja Kutai, terutama didalam menghadapi musuh.

Semua rombongan tersebut memilih daerah sekitar muara Karang Mumus (daerah Selili seberang) tetapi daerah ini menimbulkan kesulitan didalam pelayaran karena daerah yang berarus putar (berulak) dengan banyak kotoran sungai. Selain itu dengan latar belakang gunung-gunung (Gunung Selili).

Dengan rumah rakit yang berada di atas air, harus sama tinggi antara rumah satu dengan yang lainnya, melambangkan tidak ada perbedaan derajat apakah bangsawan atau tidak, semua “sama” derajatnya dengan lokasi yang berada di sekitar muara sungai yang berulak, dan di kiri kanan sungai daratan atau “rendah”. Diperkirakan dari istilah inilah lokasi pemukiman baru tersebut dinamakan SAMARENDA atau lama-kelamaan ejaan “SAMARINDA”.

Orang-orang Bugis Wajo ini bermukim di Samarinda pada permulaan tahun 1668 atau tepatnya pada bulan Januari 1668 yang dijadikan patokan untuk menetapkan hari jadi kota Samarinda. Telah ditetapkan pada peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Samarinda Nomor: 1 tahun 1988 tanggal 21 Januari 1988, pasal 1 berbunyi “Hari Jadi Kota Samarinda ditetapkan pada tanggal 21 Januari 1668 M, bertepatan dengan tanggal 5 Sya’ban 1078 H” penetapan ini dilaksanakan bertepatan dengan peringatan hari jadi kota Samarinda ke 320 pada tanggal 21 Januari 1980

TENTARA NASIONAL INDONESIA

Tentara Nasional Indonesia terdiri dari tiga angkatan bersenjata, yaitu TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, dan TNI Angkatan Udara. TNI dipimpin oleh seorang Panglima TNI, sedangkan masing-masing angkatan memiliki Kepala Staf Angkatan. Panglima TNI saat ini adalah Laksamana TNI Agus Suhartono.

Dalam sejarahnya, TNI pernah digabungkan dengan POLRI. Gabungan ini disebut ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) yang menggunakan slogan “Catur Dharma Eka Karma” disingkat “CADEK”. Sesuai Ketetapan MPR nomor VI/MPR/2000 tentang pemisahan TNI dan POLRI serta Ketetapan MPR nomor VII/MPR/2000 tentang Peran TNI dan peran POLRI maka pada tanggal 30 September 2004 telah disahkan RUU TNI oleh DPR RI yang selanjutnya ditanda tangani oleh Presiden Megawati pada tanggal 19 Oktober 2004.

Seiring berjalannya era reformasi di Indonesia, TNI mengalami proses reformasi internal yang signifikan. Di antaranya adalah perubahan doktrin “Catur” menjadi “Tri” setelah terpisahnya POLRI dari ABRI. Berdasarkan Surat Keputusan Panglima TNI nomor Kep/21/I/2007, pada tanggal 12 Januari 2007, doktrin TNI ditetapkan menjadi “Tri Dharma Eka Karma”, disingkat “TRIDEK”. [1]

Tahun 2009, jumlah personil TNI adalah sebanyak 432.129 personil.

Sejarah TNIArtikel utama untuk bagian ini adalah: Sejarah TNI
Negara Indonesia pada awal berdirinya sama sekali tidak mempunyai kesatuan tentara. Badan Keamanan Rakyat yang dibentuk dalam sidang PPKI tanggal 22 Agustus 1945 dan diumumkan oleh Presiden pada tanggal 23 Agustus 1945 bukanlah tentara sebagai suatu organisasi kemiliteran yang resmi.

BKR baik di pusat maupun di daerah berada di bawah wewenang KNIP dan KNI Daerah dan tidak berada di bawah perintah presiden sebagai panglima tertinggi angkatan perang. BKR juga tidak berada di bawah koordinasi Menteri Pertahanan. BKR hanya disiapkan untuk memelihara keamanan setempat agar tidak menimbulkan kesan bahwa Indonesia menyiapkan diri untuk memulai peperangan menghadapi Sekutu.

Akhirnya, melalui Dekrit Presiden tanggal 5 Oktober 1945 (hingga saat ini diperingati sebagai hari kelahiran TNI), BKR diubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pada tanggal 7 Januari 1946, Tentara Keamanan Rakyat berganti nama menjadi Tentara Keselamatan Rakyat. Kemudian pada 24 Januari 1946, diubah lagi menjadi Tentara Republik Indonesia.

Karena saat itu di Indonesia terdapat barisan-barisan bersenjata lainnya di samping Tentara Republik Indonesia, maka pada tanggal 5 Mei 1947, Presiden Soekarno mengeluarkan keputusan untuk mempersatukan Tentara Republik Indonesia dengan barisan-barisan bersenjata tersebut menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Penyatuan itu terjadi dan diresmikan pada tanggal 3 Juni 1947.

[sunting] Jati diri TNI
Tentara Nasional IndonesiaSesuai UU TNI pasal 2, jati diri Tentara Nasional Indonesia adalah:

1.Tentara Rakyat, yaitu tentara yang anggotanya berasal dari warga negara Indonesia
2.Tentara Pejuang, yaitu tentara yang berjuang menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan tidak mengenal menyerah dalam melaksanakan dan menyelesaikan tugasnya
3.Tentara Nasional, yaitu tentara kebangsaan Indonesia yang bertugas demi kepentingan negara di atas kepentingan daerah, suku, ras, dan golongan agama
4.Tentara Profesional, yaitu tentara yang terlatih, terdidik, diperlengkapi secara baik, tidak berpolitik praktis, tidak berbisnis, dan dijamin kesejahteraannya, serta mengikuti kebijakan politik negara yang menganut prinsip demokrasi, supremasi sipil, hak asasi manusia, ketentuan hukum nasional, dan hukum internasional yang telah diratifikasi

PERSIT KARTIKA CHANDRA KIRANA

Persit Kartika Chandra Kirana merupakan organisasi Persatuan Isteri Prajurit TNI Angkatan Darat.
Isteri Prajurit Angkatan Darat mutlak tidak dapat dipisahkan dari TNI Angkatan Darat, baik dalam melaksanakan tugas organisasi maupun dalam kehidupan pribadi. Oleh karena itu isteri prajurit TNI Angkatan Darat harus membantu TNI Angkatan Darat dalam menyukseskan tugasnya baik sebagai kekuatan pertahanan maupun sebagai komponen pembangunan bangsa untuk mencapai cita-cita bangsa Indonesia
Sampai dengan saat ini Persit telah membantu Kepala Staf TNI Angkatan Darat dalam Pembinaan isteri Prajurit dan keluarganya khusunya bidang mental, fisik, kesejahteraan dan moril. Tugas lainnya adalah mendukung kebijaksanan pimpinan TNI AD dengan membina dan mengerahkan perjuangan isteri anggota TNI AD, menciptakan rasa persaudaraan, dan kekeluargaan, rasa pertsatuan dan kesatuan serta kesadaran nasional.
Kegiatan Persit antara lain melakukan kegiatan di bidang organisasi, ekonomi, pendidikan, budaya dan sosial dengan persetujuan pembina utama Persit Kartika Chandra Kirana atau Pembina dan sepengetahuan Dharma Pertiwi setingkat.
LATAR BELAKANG
Dalam perjuangan mengisi kemerdekaan, isteri prajurit Tentara Nasional Indonesia (selanjutnya disingkat TNI) Angkatan Darat sebagai warga negara Republik Indonesia berhak dan wajib memper¬ juangkan tercapainya cita-cita bangsa Indonesia yaitu masyarakat yang adil dan makmur, material dan spiri ¬tual dalam wadah negara kesatuan Republik Indo¬nesia dalam lingkungan serta suasana perdamaian dan persahabatan dunia.
Isteri prajurit TNI Angkatan Darat mutlak tidak dapat dipisahkan dari TNI Angkatan Darat, baik dalam melaksanakan tugas organisasi maupun dalam kehidupan pribadi. Oleh karena itu isteri prajurit TNI Angkatan Darat harus membantu TNI Angkatan Darat dalam menyukseskan tugasnya baik sebagai kekuatan pertahanan keamanan maupun sebagai komponen pembangunan bangsa untuk mencapai cita-cita bangsa Indonesia.
Didorong oleh keinginan Iuhur untuk mencapai tujuan organisasi, para isteri prajurit TNI Angkatan Darat bertekad bulat meningkatkan perjuangan dalam wadah organisasi persatuan isteri prajurit (selanjutnya disingkat Persit) Kartika Chandra Kirana sebagai kelanjutan dari organisasi terdahulu yakni Persatuan Isteri Tentara yang didirikan pada tanggal 3 April 1946 di Purwakarta berasaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 serta tetap membina terjalinnya.
1. Persatuan, kesatuan persaudaraan serta kekeluargaan
2. Rasa senasib, sepenanggungan serta seper¬juangan sebagai isteri prajurit
Sejalan dengan pengembangan organisasi dan kemajuan yang telah dicapai di bidang integrasi ABRI, Persit Kartika Chandra Kirana menjadi anggota Dharma Pertiwi yang dibentuk tanggal 15 April 1964 sebagai Badan Kerja Sama Dharma Pertiwi.
Badan ini ditingkatkan menjadi Badan Musyawa ¬rah Dharma Pertiwi pada tanggal 12 Juni 1969. Kemudian pada tanggal 6 Maret 1972 menjadi Dharma Pertiwi sebagai wadah integrasi organisasi isteri anggota ABRI yang beranggotakan Persit Kartika Chandra Kirana, Jalasenastri. Pia Ardhya Garini, Bhayangkari dan Ikatan Kesejahteraan Keluarga ABRI. Dalam perkembangan selanjutnya Persit Kartika Chandra Kirana menyesuaikan organisasinya dengan reorganisasi TNI Angkatan Darat yang dimulai tahun 1984 dan undang-undang Republik Indonesia nomor 8 tahun 1985 tentang organisasi kemasyarakatan.
Dengan demikian kedudukan Persit Kartika Chandra Kirana merupakan organisasi ke-masyarakatan yang berinduk pada organisasi kemasyarakatan Dharma Pertiwi, dan sesuai hasil Munas IX Dharma Pertiwi Tahun 1999, Dharma Pertiwi sebagai wadah organisasi isteri anggota TNI. beranggotakan Persit Kartika Chandra Kirana, Jalasenastri, Pia Ardhya Garini dan IKKT Pragati Wira Anggini.
TUGAS POKOK PERSIT KARTIKA CHANDRA KIRANA
1. Membantu Kepala Staf Angkatan Darat dalam pembinaan isteri prajurit dan keluarganya khususnya bidang mental, fisik, kesejahteraan dan moril sehingga dapat berpengaruh terhadap keberhasilan tugas prajurit.
2. Mendukung kebijaksanaan pemimpin TNI dengan membina dan mengarahkan perjuangan isteri anggota TNI Angkatan Darat, menciptakan rasa persaudaraan dan kekeluargaan, rasa persatuan dan kesatuan serta kesadaran nasional.
KEDUDUKAN PERSIT KARTIKA CHANDRA KIRANA
Persit Kartika Chandra Kirana berbentuk badan perjuangan yang merupakan organisasi kemasya rakatan yang berinduk pada organisasi kemasyara¬katan Dharma Pertiwi. Persit Kartika Chandra Kirana adalah suatu badan pelaksanaan yang berdiri sendiri, berkedudukan langsung di bawah Kepala Staf TNI Angkatan Darat yang sifat kegiatannya diatur secara ekstra struktural di dalam struktur organisasi TNI Angkatan Darat. Tujuan Persit Kartika Chandra Kirana adalah :
1. Ikut serta mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur material maupun spiritual berasaskan Pancasila.
2. Membantu tugas pembinaan TNI Angkatan Darat sebagai kekuatan pertahanan keamanan maupun sebagai komponen pembangunan bangsa.
3. Mewujudkan kesatuan perjuangan isteri anggota TNI yang berdasarkan rasa senasib, sepenanggungan dan seperjuangan.
KEANGGOTAAN PERSIT KARTIKA CHANDRA KIRANA
1. Isteri prajurit organik Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat yang
a. Suaminya masih dinas aktif di dalam organisasi TNI Angkatan Darat
b. Suaminya ditugaskan di Iuar Iingkungan TNI Angkatan Darat tetapi masih dinas aktif.
c. Suaminya memasuki masa persiapan pensiun dan diangkat sebagai anggota cadangan dalam dinas aktif (DDA).
2. Isteri purnawirawan TNI Angkatan Darat sebagai anggota yang ditugasi atas nama persatuan isteri prajurit (Persit) Kartika Chandra Kirana dengan persetujuan Pembina Utama Persit Kartika Chandra Kirana atau pembina.

KOTA BANJARMASIN

Kota Banjarmasin adalah salah satu kota sekaligus merupakan ibu kota dari provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Kota yang cukup padat ini termasuk salah satu kota besar di Indonesia, walau luasnya yang terkecil di Kalimantan, yakni luasnya lebih kecil daripada Jakarta Barat. Kota yang dijuluki kota seribu sungai ini merupakan sebuah kota delta atau kota kepulauan sebab terdiri dari sedikitnya 25 buah pulau kecil (delta) yang merupakan bagian-bagian kota yang dipisahkan oleh sungai-sungai diantaranya pulau Tatas, pulau Kelayan, pulau Rantauan Keliling, pulau Insan dan lain-lain.[4] Sejak zaman dulu hingga sekarang Banjarmasin masih menjadi bandar pelabuhan terpenting di pulau Kalimantan.[5][6][7][8][9][10] Pelabuhan kota Banjarmasin adalah pelabuhan Trisakti yang terletak 12,5 mil dari muara sungai Barito.[11]Pelabuhan Trisakti memiliki Terminal Petikemas Banjarmasin (TPKB) yang termasuk 10 besar terminal petikemas di Indonesia.[12]

Dalam bahasa Jawa, Banjarmasin berarti taman asin[13][14], sedangkan sejarah Jawa Barat mencatat nama Banjarmasin berasal dari keluarga keraton Kerajaan Mahasin di Singapura yang mengungsi ke daerah Banjar karena serangan Sriwijaya kemudian berdirilah Kerajaan Banjar Mahasin[15], namun nama asli kota Banjarmasin adalah Banjar-Masih[16], pada tahun 1664 orang Belanda masih menulisnya Banjarmasch atau Banzjarmasch.[17] Kota yang secara historis menjadi ibukota provinsi Kalimantan sampai tahun 1957 ini memiliki Indeks persepsi kenyamanan 52.61 (th. 2009)[18] meningkat menjadi 53.16 (th. 2011) walau masih di bawah rata-rata[19][20]. Tahun 1942 Jepang menduduki kota ini, sebelumnya kolonial Belanda, menjadikan Banjarmasin sebagai ibukota Dutch-Borneo dan di bawah kekuasaan Inggris (Alexander Hare) dikenal sebagai British-Borneo.[21][22]

Penyebutan Banjarmasin yang pernah digunakan:

Benjar[23]
Benjarsen atau Benjar-mausen[24]
Bandjermassing[25]
Bandjer Massing[26]
Banjer-massinsch[27]
Banjarmassing[28]
Bandjarmassingh[29][30]
Bandjermasin[31][32]
Bandjermassin[33]
Banjer Massin[34]
Banjermassin[35][36]
Banjermasin[37]
Banjermasing[38]
Banyermasin
Banjermassing[39]
Banjir Massin[40]
Banjirmasin[41]
Banjar Massen[42]
Benjar-Maffen[43][44]
Banjar Maffeen[45][46][47][48]
Banjermaffing[49][50][51]
Benjar-Massing[52]
Banjar Massin[53]
Banjarmassin[54]
Banjarmassim[55]
BAGNAR MESSIN[56]
Bandgermasin (Spanyol)
Bandjermasinsche[57]
Bandjarmassin[58][59]
Bandjar Masin[60]
Bandermachri
Bengermarssin
Bendamarfin[61]
Bender Massin/Bandermassin[62][63]
Beniar atau Bendermassin[64][65]
Benjermasin
Bendermassing[66]
Tathalmasin[67]
Nama lain kota Banjarmasin adalah kota Tatas karena kota ini berdiri di atas pulau Tatas, yaitu delta yang membentuk wilayah kecamatan Banjarmasin Barat dan sebagian Banjarmasin Tengah yang dahulu sebagai pusat pemerintahan Residen Belanda.[68]
Secara de jure Banjarmasin masih sebagai ibukota Kalsel, namun kantor Sekretariat Daerah Provinsi Kalimantan Selatan terhitung sejak tanggal 14 Agustus 2011 yang bertepatan dengan Harijadi Kalsel ke 61, telah dipindahkan ke kecamatan Cempaka (Banjarbaru) yang berdiri pada lokasi dengan ketinggian elevasi 44 meter di atas permukaan laut serta berjarak sekitar 60 km dari kantor lama yang berlokasi di tepi sungai Martapura pada titik 0 km Banjarmasin.[69][70] [71][72] Departemen Pekerjaan Umum sedang mempersiapkan Banjarmasin beserta 4 daerah kab/kota yang menjadi satelitnya[73] sebagai salah satu Kawasan Strategis Nasional yaitu Kawasan Perkotaan Banjarmasin, Banjarbaru, Banjar, Barito Kuala, Tanah Laut sebagai calon kota “metropolitan” yang ke-9[74][75] yang dinamakan Banjar Bakula.[76][77][78][79] [80]

MASYARAKAT MADANI

MASYARAKAT MADANI
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Sebagai teori atau konsep, civil society sebenarnya sudah lama dikenal sejak masa Aristoteles pada zaman Yunani Kuno, Cicero, pada zaman Roma Kuno, pada abad pertengahan, masa pencerahan dan masa modern. Dengan istilah yang berbeda-beda, civil society mengalami evolusi pengertian yang berubah dari masa ke masa. Di zaman pencerahan dan modern, isttilah tersebut dibahas oleh para filsuf dan tokoh-tokoh ilmu-ilmu sosial seperti Locke, Hobbes, Ferguson, Rousseau, Hegel, Tocquiville, Gramsci, Hebermas.Dahrendorf, Gellner dan di Indonesia dibahas oleh Arief Budiman, M.Amien Rais, Fransz, Magnis Suseso, Ryaas Rasyid, AS. Hikam, Mansour Fakih.
Mewujudkan masyarakat madani adalah membangun kota budaya bukan sekedar merevitalisasikan adab dan tradisi masyarakat local, tetapi lebih dari itu adalah membangun masyarakat yang berbudaya agamis sesuai keyakinan indifidu, masyarakat berbudaya yang saling cinta dan kasih yang menghargai nilai-nilai kemanusiaan .
Peradaban adalah istilah Indonesia sebagai terjemahan dari civilization. Asal katanya adalah a-dlb yang artinya adalah kehalusan?(refinement), pembawaan yang baik, tingkah laku yang baik, sopan santun, tata-susila, kemanusiaan atau kesasteraan. Ungkapan lisan dan tulisan tentang masyarakat madani semakin marak akhir-akhir ini seiring dengan bergulirnya proses reformasi di Indonesia. Proses ini ditandai dengan munculnya tuntutan kaum reformis untuk mengganti Orde Baru yang berusaha mempertahankan tatanan masyarakat yang status quo menjadi tatanan masyarakat yang madani. Untuk mewujudkan masyarakat madani tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Namun, memerlukan proses panjang dan waktu serta menuntut komitmen masing-masing warga bangsa ini untuk mereformasi diri secara total dan konsisten dalam suatu perjuangan yang gigih.
B. Rumusan Masalah
Masyarakat madani merupakan konsep yang berwayuh wajah: memiliki banyak arti atau sering diartikan dengan makna yang beda-beda. Bila merujuk kepada Bahasa Inggris, ia berasal dari kata civil society atau masyarakat sipil, sebuah kontraposisi dari masyarakat militer. Menurut Blakeley dan Suggate (1997), masyarakat madani sering digunakan untuk menjelaskan “the sphere of voluntary activity which takes place outside of government and the market.”
C. Tujuan Penulisan
Tulisan ini didedikasikan sebagai upaya dalam mewujudkan masyarakat madani, baik yang berjangka pendek maupun yang berjangka panjang. lain adalah dengan menyiapkan sumber daya manusia yang berwawasan dan berperilaku madani melalui perspektif pendidikan.

BAB II
PEMBAHASAN
MASYARAKAT MADANI

1. PENGERTIAN MASYARAKAT MADANI
Kemungkinan akan adanya kekuatan civil sebagai bagian dari komonitas bangsa ini akan mengantarkan pada sebuah wacana yang saat ini sedang berkembang yakni masyarakat madani. Marupakan wacana yang telah mengalami proses yang panjang. Ia muncul bersamaan dengan proses modernisasi, terutama pada saat terjadinya masa transformasi dari masyarakat feodal manuju masyarakat barat modern yang lebih terkenal lagi dengan civil society.
Dalam mendefinisikan tema masyarakat madani sangat bergantung pada kondisi social cultural suatu bangsa, kareana bagai mana pun konsep masyarakat madani merupakan bangunan tema terakhir dari sejarah bangsa Eropa Barat.Sebagai titik tolak, disisi dikemukakan beberapa definisi masyarakat madani:
Pertama; Definisi yang dikemukakan oleh Zbigniew Rew dangan latar belakang kajiannya pada kawasan Eropa Timur dan Uni Sovyet. Ia mengatakan bahwa yang di maksud masyarakat madani merupakan suatu yang berkembang dari sejarah, yang mengandalkan ruang dimana individu dan perkumpulan tempat mereka bergabung bersaing satu sama lain guna mencapai nilai-nilai yang mereka yakini. Maka yang dimaksud dengan masyarakat madani adalah sebuah ruang yang bebas dari pengaruh keluarga dan kekuasaan Negara.
Kedua; oleh Han-Sung-Joo ia mengatakan bahwa masyarakat madani merupakan sebuah kerangka hukum yang melindungi dan menjamin hak-hak dasar individu. Perkumpulan suka rela yang terbatas dari Negara suatu ruang publik yang mampu mengartikulasi isu-isu politik. Gerakan warga Negara yang mampu mengendalikan diri dan indenpenden, yang secara bersama-sama mengakui norma-norma dan budaya yang menjadi indentitas dan solidaritas yang terbentuk pada akhirnya akan terdapat kelompok inti dalam civil society.
Ketiga; oleh Kim Sun Hyuk ia mengatakan bahwa yang dimaksud dengan masyarakat madani adalah suatu satuan yang terdiri dari kelompok-kelompok yang secara mandiri menghimpun dirinya dan gerakan-gerakan dalam msyarakat yang secara relative. Secara global dari ketiga batasan di atas dapat ditarik benang emas, bahwa yang dimaksud dengan masyrakat madani adalah sebuah kelompok atau tatanan masyarakat yang berdiri secara mandiri dihadapan penguasa dan Negara, yang memiliki ruang publik dalam mengemukakan pendapat, adanya lembaga-lembaga yang mandiri yang dapat mengeluarkan aspirasi dan kepentingan publik.

2. SEJARAH DAN PERKEMBANGAN MASYARAKAT MADANI
Menurut Aristoteles (384-322) masyarakat madani di pahami sebagai sistem kenegaraan dengan menggunakan istilah kolonia politik ( sebuah komunitas politik tempat warga dapat terlibat dalam berbagai percaturan ekonomi politik dan pengambilan keputusan).
Konsepsi Aristoteles ini di ikuti oleh Marcos Tullios Cicero (106-43) dengan istilah Societis Civilies yaitu sebuah komonitas yang lain, tema yang dikedepan kan oleh Cicero ini lebih menekankan pada konsep Negara kota (city state), yakni untuk menggambarkan kerajaan, kota dan bentuk lainya sebagai kesatuan yang terorgenisasi.
Pada tahun 1767, wacana masayarakat madani ini dikembangkan oleh Adam Fergoson dengan mengambil konteks sosio-kultural, Fergoson menekankan mayasrakat madani pada sebuah visi etis dalam kehidupan bermasyarakat. Pahamnya ini digunakan untuk mengatisipasi perubahan sosial yang diakibatkan oleh revolusi industri dan munculnya kapitalisme serta mencoloknya perbedaan antara publik dan individu.
Kemudian pada tahun 1792, muncul wacana masyarakat madani yang memiliki aksetuansi yang dengan sebelumnya. Konsep ini memunculkan Thomas Paine (1737-1803) yang menggunakan istilah masyrakat madani sebagai kelompok masyarakat yang memiliki posisi secara diametral dengan Negara, bahkan dianggap sebagai antithesis dari Negara, dengan demikian, maka masyrakat madani menurut Thomas Paine adalah ruang dimana warga dapat mengembangkan kepribadian dan memberi peluang bagi pemuasan kepentingannya secara bebas dan tanpa paksaan.
Perkembangan civic society selanjutnya dikembangkan oleh G.W.F Hegel (1770-1831), Karl Mark (1818-1883) dan Antonio Gramsci (1891-1837). Wacana masyarakat madani yang dikembangkan oleh ketiga tokoh ini menekankan kepada masyarakat madani elemen ideology kelas dominan, pemahaman ini lebih merupakan sebuah reaksi dari model pemahaman yang dilakukan oleh Paine (yang menganggap masyarakat madani sebagai bagian terpisahnya dari Negara), menurut Hegel masyarakat madani merupakan kelompok subordinatif dari Negara, menurut Ryas Rasid erat kaitannya dengan fenomena masyarakat berjuis Eropa (Burgerlische gesselscaft) yang artinya pertumbuhannya ditandai dengan perjuangan melepaskan diri dari dominasi Negara.
Sedangakan Karl Marx memahami masyarakat madani sebagai “masyrakat Borjuis” dalam konteks hubungan produksi kapitalis keberadaannya merupakan kendala bagi pembebasan manusia dari penindasan. Menurut pemahaman Gramsci memberikan tekanan pada kekuatan cendikiawan yang merupakan faktor utama dalam proses perubahan sosial dan politik.

3. KARAKTER MASYARAKAT MADANI
Karaketeristik masyarakat madani dimaksudkan untuk menjelaskan dalam merealisasikan wacana masyarakat madani diperlukan persyaratan-persyaratan yang menjadi nilai universal dalam penegakan masyarakat madani, karateristik tersebut antara lain:
– FRE PUBLIK SPHERE maksudnya adalah ruang publik yang bebas sebagai sarana dalam mengemukakan pendapat.
– DEMOKRATIS merupakan satu entitas yang penegak wacana masyarakat madani, warga Negara memiliki kebebasan penuh untuk menjalankan aktivitas sehariannya. Jadi Demokratis berarti masyarakat dapat berlaku santun dalam pola hubungan interaksi dengan masyarakat sekitarnya dengan tidak mempertimbangkan suku, ras, dan agama.
– TOLERAN merupakan sikap yang dikembangkan dalam masyarakat madani untuk menunjukkan saling menghargai dan menghormati aktivitas yang dilakukan oleh orang lain.
– PLURALISME menurut Nurchalish Madjid adalah pertalian sejati kebhinekaan dalam ikatan-ikatan keadaaban dan pluralisme adalah juga suatu keharusan bagi keselamatan umat manusia.
– KEADILAN SOSIAL maksudnya adalah keseimbangan dan pembagian yang professional terhadap hak dan kewajiban setiap warga Negara yang mencakup seluruh aspek kehidupan.

4. MASYARAKAT MADANI MENURUT AL-QURAN
                              
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS. An-nisa: 59)

5. PILAR PENEGAK MASYARAKAT MADANI
Yang dimaksud dengan pilar masyarakat madani adalah institusi-institusi yang menjadi bagian dari sosial control yang berfungsi mengkritisi kebijakan-kebijakan penguasa yang diskriminatif serta mampu memperjuangkan aspirasi masyarakat yang tertindas. Dalam penegakkan masyrakat madani, pilar-pilar tersebut menjadi persyaratan mutlak bagi terwujudnya kekuatan masyarakat madani, pilar-pilar tersebut antara lain adalah:
1. Lembaga Swadaya masyarakat adalah institusi sosial yang dibentuk oleh swadaya masyrakat yang tugas esensinya adalah membantu dan memperjuangkan aspirasi dan kepentingan masyarakat yang tertindas.
2. pers merupakan institusi yang penting dalam penegakan masyarakat madani, karena kemungkinannya dapat mengkiritis dan menjadi bagian dari sosial control yang dapat menganalisa serta mempublikasikan berbagai kebijakan pemerintah yang berkenaan dengan warga negaranya.
3. Supremasi Hukum; setiap warga Negara, baik yang duduk dalam formasi pemerintahan maupun sebagai rakyat, harus tunduk kepada (aturan) hukum.
4. Perguruan tinggi; yakni tempat dimana civitas akademikanya (dosen dan mahasiswa) merupakan bagian dari kekuatan sosial dan masyarakat madani yang bergerak pada jalur moral Force untuk menyalurkan aspirasi masyrakat dan mengkritisi berbagai kebijakan-kebijakan pemerintah, dengan catatan gerakan yang dilancarkan oleh mahasiswa tersebut.
5. Partai politik merupakan wahana bagi warga Negara untuk dapat menyalurkan asipirasi politiknya
Menurut Riswandi Immawan, perguruan tinggi memiliki tiga peranan dalam mewujudkan masyarakat madani. Pertama, pemihakan yang tegas pada prinsip egalitarianisme yang menjadi dasar kehidupan politik yang demokratis, kedua membangun mengembangkan dan mempublikasikan informasi secara objektif dan tidak manipulatif. Ketiga melakukan tekanan terhadap ketidakadilan dengan cara santun dan saling menghormati.
Partai politik merupakan wahana bagi warga Negara untuk dapat menyalurkan asipirasi politiknya dan tempat ekspresi politik warga Negara, maka partai politik ini menjadi persyaratan bagi tegaknya masyrakat madani.

6. MASYARAKAT MADANI DAN DEMOKRATISASI
Hubungan antara masyarakat madani dengan demokrasi, menurut Dawam bagaikan dua sisi mata uang, yang keduanya bersifat KO-eksistensi. Menurut masyarakat madani merupakan “rumah” persemian demokrasi, perlembang demokrasinya adalah pemilihan umum yang bebas dan rahasia.
Larry Diamond secara sistematis menyebutkan enam kontribusi masyrakat madani terhadap proses demokrasil; pertama, ia menyediakan wahana sumber daya politik, ekonomi, kebudayaan dan moral untuk mengawasi dan menjaga keseimbangan pejabat Negara. Kedua, pluraisme dalam masyarakat madani, bila diorganisir akan mejadi dasar yang penting bagi persaingan demokrasi. Ketiga memperkaya partisipasi politik dan meningkatkan kesadaran kewarganegaraan. Keempat ikut menjaga stabilitas Negara. Kelima, tempat pimpinan politik dan keenam, menghalangi dominasi rezim otoriter dan mempercepat runtuhnya rezim.
Untuk menciptakan masyarakat madani yang kuat dalam konteks pertumbuhan dan perkembangan demokrasi diperlukan pembentukan Negara secara grandual dengan suatu masyrakat politik yang demokratis partisipatoris, reflektif dan dewasa yang mampu menjadi penyeimbang dan control atas kecenderungan eksesif Negara. Dalam masyrakat madani warga Negara sebagai pemilik kedaulatan dan hak untuk mengontrol pelaksanaan kekuasaan yang mengatasnamakan rakyat, sehingga setiap individu dalam masyarakat madani memiliki kesempatan untuk memperkuat kemandirian.
Kemandirian dimaksudkan adalah harus mampu direfleksikan dalam seluruh ruang kehidupan politik, ekonomi dan budaya, menurut M. Dawan Rahadjo ada beberapa asumsi yang berkembang. Pertama, demokratisasi bisa berkembang, apabila masyarakat madani menjadi kuat baik melalui perkembangan dari dalam atau dari diri sendiri. Kedua, demokratisasi hanya bisa berlangsung apabila peranan Negara dikurangi atau dibatasi tanpa mengurangi efektivitas dan esensi melalui interaksi. Ketiga, demokrasi bisa berkembang dengan meningkatkan kemandirian independensi masyrakat madani dari tekanan dan Negara.

7. MASYARAKAT MADANI INDONESIA
Masyarakat madani jika dipahami secara sepintas merupakan format kehidupan alternative yang mengedepankan semangat demokrasi dan menjunjung tinggi nilai hak asasi manusia. Konsep masyarakat madani menjadi alternative pemecahan, dengan pemberdayaan dan penguatan daya control masyarakat terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang akhirnya nanti terwujud kekuatan masyarakat yang mampu merealisasikan dan menegakkan konsep hidup yang demokratis dan menghargai hak-hak asasi manusia.
Berkembangnya masyarakat madani di Indonesia diawali dengan kasus-kasus pelanggaran HAM dan pengekangan kebebasan berpendapat, berserikat dan kebebasan untuk mengeluarkan pendapat dimuka umum kemudian dilanjutkan dengan munculnya berbagai lembaga-lembaga non pemerintah mempunyai kekuatan dan bagian dari sosial control.
Secara esensial Indonesia memang membutuhkan pemberdayaan dan penguatan masyarakat secara komprehensif agar memiliki wawasan dan kesadaran demokrasi yang baik serta mampu menjunjung tinggi nilai-nilai hak asasi manusia. Untuk itu, maka diperlukan pengembangan masyarakat madani dengan menerapkan strategi sekaligus agar proses pembinaan dan pemberdayaan itu mencapai hasilnya secara optimal.
Menurut Dawan ada tiga strategi yang salah satunya dapat digunakan sebagai strategi dalam memberdayakan masyrakat madani Indonesia.
1. Strategi yang lebih mementingkan integrasi nasional dan politik. Strategi ini berpandangan bahwa sistem demokrasi tidak mungkin berlangsung dalam masyarakat yang belum memiliki kesadaran berbangsa dan bernegara yang kuat.
2. Strategi yang lebih mengutamakan reformasi sistem politik demokrasi. Strategi ini berpandangan bahwa untuk membangun ekonomi.
3. Strategi yang memilih membangun masyarakat madani sebagai basis yang kuat kearah demokratisasi.
Fakta model strategi pemberdayaan masyarakat madani tersebut dipertegas oleh Hakim bahwa di Era transisi ini harus dipikirkan prioritas-prioritas pemberdayaan dengan cara memahami target-target group yang paling strategis serta penciptaan pendekatan-pendekatan yang tepat di dalam proses.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Kemungkinan akan adanya kekuatan civic sebagai bagian dari komunitas bangsa ini akan mengantarkan pada sebuah wacana yang saat ini sedang berkembang, yakni masyarakat madani. Dalam mendefinisikan terma masyarakat madani ini sangat bergantung pada kondisi sosio kultural suatu bangsa, karena bagaimanapun konsep masyarakat madani merupakan bangunan terma terakhir dari sejarah pergulatan bangsa Eropa Barat.
Manurut Aristoteles (384-322) masyarakat madani dipahami sebagai sistem kenegaraan dengan menggunakan istilah kolonia politik (sebuah komunitas politik tempat warga dapat terlibat langsung dalam berbagai percaturan ekonomi politik dan pengambilan keputusan).
Karakteristik masyarakat madani diperlukan persyaratan-persyaratan yang menjadi nilai universal dalam penegakkan masyarakat madani.
Dan masyarakat madani juga harus mempunyai pilar-pilar penegak, karena berfungsi sebagai mengkritisi kebijakan-kebijakan penguasa yang diskriminatif serta mampu memperjuangkan aspirasi masyarakat yang tertindas.
Hubungan antara masyarakat madani dengan demokratis menurut Dawam bagaikan dua sisi mata uang yang keduanya bersifat ko-eksistensi.
Berkembangnya masyarakat madani di Indonesia diawali dengan kasus-kasus pelanggaran HAM dan pengekangan kebebasan berpendapat, berserikat, dan kebebasan untuk mengeluarkan pendapat dimuka umum kemudian dilanjutkan dengan munculnya berbagai lembaga-lembaga non pemerintah mempunyai kekuatan dan bagian dari sosial control.

DAFTAR PUSTAKA

Azyumardi, Azra, Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Masyarakat Madani, Jakarta, Tim ICCE UIN, Jakarta, 2000

Yonif 600/Raider

Batalyon Infantri 600/Raider
Kodam VI/Tanjungpura memiliki satu Batalyon pemukul yang berkedudukan di Manggar Balikpapan Kalimantan Timur. Yaitu Batalyon Infanteri 600/Raider, satuan ini merupakan bagian dari salah satu Batalyon yang diandalkan oleh Kodam VI/Tanjungpura dalam perannya sebagai alat pertahanan dan keamanan di wilayah Kalimantan khususnya dan Nusantara pada umumnya. Secara taktis op…erasional dan adminitrasi, Yonif 600/Raider langsung berada dibawah kendali Panglima Kodam VI/Tanjungpura.
Cikal bakal Yonif 600/Raider berawal dari pecahan Yonif 609 Semanggi/Klaper yang di lebur dengan Resimen Induk 22/Tanjungpura dan secara resmi menjadi Yonif 612/Modang pada tanggal 1 September 1959.
Dengan adanya upaya penyempurnaan organisasi secara terus menerus maka pada tahun 1966/1967 Yonif 612/Modang mengalami validasi dari yang semula hanya memiliki 4 Kompi kemudian dikembangkan menjadi 5 Kompi yang terdiri dari 3 Kompi Senapan, 1 Kompi Bantuan dan 1 Kompi Markas. Pada tanggal 21 Juli 1987,Yonif 612/BS mobil resmi menjadi Batalyon Infanteri Lintas Udara 612/Modang dengan bersemboyankan PANTANG MENYERAH SAMPAI TITIK DARAH PENGHABISAN.
Pada Desembar 2005 bersama-sama 10 Batalyon PMK lainnya dari jajaran TNI AD, di Jakarta Kasad mengukuhkan 10 Batalyon Raider salah satunya Batalyon Infanteri 600/Raider. dengan Bersemboyankan: “ Cepat Senyap Tepat”
Yonif 600/Raider sebagai pasukan yang mempunyai kemampuan khusus memiliki lambang yang menjadi kebanggaan bagi setiap prajuritnya.

Lambang Raider
Sangkur terhunus bermata dua : melambangkan bahwa prajurit Raider memiliki ketajaman dalam berfikir dan berolah yudha. Sehingga prajurit Raider selalu siap mengemban tugas sebagai pasukan terdepan.
Lintasan Kilat atau Petir : Melambangkan bahwa prajurir Raider adalah prajurit yang mampu bergerak dan bertindak dengan cepat dan senyap di segala bentuk medan dalam pertempuran.
Warna Merah Putih : melukiskan bahwa jiwa nasionalisme dimiliki oleh setiap prajurit Raider yang mengedepankan kepentingan tugas dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Semboyan Yonif 600/Raider
“CEPAT SENYAP TEPAT“
Mengandung arti bahwa :
Cepat dalam bertindak
Senyap dalam bergerak
Tepat sesuai sasaran

Cepat senyap tepat adalah semboyan yang di junjung tinggi oleh Batalyon Infanteri 600/Raider dengan semangat pantang menerima kegagalan dalam melaksanakan tugas-tugas operasinya.
Dengan kata lain Yonif 600/Raider merupakan satuan kebanggaan Kodam VI/Tanjungpura yang memiliki mobilitas tinggi mampu bergerak dan bertindak secara cepat, senyap dan tepat untuk merebut sasaran dalam kondisi bagaimanapun juga. Dengan dilandasi semangat juang yang tinggi, rela berkorban dan pantang menyerah hingga titik darah penghabisan dalam pengabdiannya untuk keutuhan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kekompakan dan kebersamaan yang tinggi merupakan simbol rasa solidaritas yang kuat. Dasar tersebut tercermin dalam kegiatan keseharian para prajurit Batalyon Infanteri 600/Raider dalam membina kesehatan dan keterampilan jasmani maupun rohani untuk menjadi prajurit Raider yang tangguh dan handal.
Beladiri karate, jogging serta olah raga lainnya adalah bagian dari pembinaan kemampuan yang harus dimiliki oleh setiap prajurit Batalyon Infanteri 600/Raider .
Secara profesional Batalyon Infanteri 600/Raider dapat diperhitungkan dalam menjalankan tugas operasi dengan memiliki kemahiran dan mampu mengoperasionalkan semua perlengkapan serta persenjataan yang dibekalkan pada setiap penugasan.
Batalyon Infanteri 600/Raider secara kualitas merupakan satuan yang memiliki kemampuan plus dari Batalyon biasa. Dilihat dari sisi kesiapan personil, Batalyon Infanteri 600 Raider didukung dengan peralatan yang cukup memadai serta kemampuan yang handal, perintah tugas selalu di emban oleh Batalyon Infanteri 600/Raider dalam menjalankan kebijakan strategis Pemerintahan Indonesia, seperti pemulihan keamanan di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, Provinsi Papua dan Propinsi Maluku adalah beberapa perintah tugas yang dilaksanakan oleh Batalyon Infanteri 600/Raider dalam perannya sebagai alat pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Keberadaan Batalyon Infanteri 600/Raider di bawah Komando Daerah Militer VI/Tanjungpura, secara wilayah, perekonomian Kalimantan cukup strategis dengan adanya banyak perindustrian yang dijadikan objek vital nasional dan salah satu penyumbang devisa terbesar negara, sedangkan secara geografis sebagian besar pulau Kalimantan banyak terdapat rawa, sungai, dan hutan, serta di kelilingi oleh pantai yang luas hal tersebut tidak menutup kemungkinan pihak musuh maupun jaringan organisasi teroris menjadikan pulau Kalimantan sebagai basis aksinya.
Dengan geografis kewilayahan, pulau Kalimantan rawan akan ancaman dari luar maupun dari dalam negeri sendiri. Oleh karena itu Batalyon Infanteri 600/Raider siap menjalankan tugas pengamanan wilayah Kalimantan mulai dari hutan rimba, pesisir pantai, rawa, sampai daerah lainnya.
Batalyon Infanteri 600/Raider di jajaran TNI-AD, khususnya dalam even even pertandingan baik itu ragam militer maupun ragam umum seperti olah raga dan yang lainnya juga tidak bisa dianggap remeh, berbagai prestasi yang telah diraih merupakan salah satu bukti bahwa Batalyon Infanteri 600/Raider adalah satuan yang memang pantas untuk diperhitungkan. pd th 2008 terpilih sbg juara lomba binsat se angkatan darat dan diberikan penghargaan bergabung dgn pasukan garuda XXIII-C yg melaksanakan tugas di wilayah lebanon selatan s.d th 2009.

Sebagai Pasukan Pemukul Kodam VI/Tanjungpura Batalyon Infanteri 600/Raider tidak saja dituntut tugas operasi intelejen dan teritorial saja, namun harus mampu menyelesaikan tugas operasi taktis pertempuran yang bersifat khusus.
Pertempuran Jarak Dekat ( PJD ) merupakan salah satu kemampuan yang bersifat khusus dalam menyelesaikan sasaran pada jarak tertentu, misalkan pembersihan dalam ruangan ataupun sasaran lainnya yang harus diselesaikan pada jarak yang sangat dekat.
Kemampuan lainnya yang dimiliki oleh Batalyon Infanteri 600/Raider adalah Operasi Mobil Udara dan penanggulangan teror baik yang bersifat pambebasan tawanan maupun penghancuran bangunan. Semua itu merupakan sasaran yang bernilai sangat strategis.
Satuan tempur yang memiliki simbol pisau bermata dua dan kilat petir serta bersemboyan cepat tepat senyap Batalyon Infanteri 600/Raider siap menegakan dan melindungi wilayah kalimantan serta Negara Kesatuan Republik Indonesia secara profesional dan bertanggung jawab dan berlandaskan sumpah prajurit TNI.
Disiplin, Profesionalisme dan di Rahmati oleh Tuhan Yang Maha Esa Batalyon Infanteri 600/Raider bertekad selalu siap sedia dalam menjaga setiap trouble spot diwilayah Kalimantan khususnya dan Nusantara pada umumnya.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu memberikan Rahmat berupa perlindungan, petunjuk dan kekuatan dalam menjalankan tugas dan pengabdian dalam berdharma bhakti kepada Ibu Pertiwi .
Jayalah Kodam VI/Tanjungpura, Jayalah Yonif 600/Raider. Tetap berkibarlah di cakrawala Nusantara.
Cepat Senyap Tepat
Gawi manuntung waja sampai kaputing. Bekerja keras dengan semangat baja pantang menyerah hingga titik darah penghabisan.
Lihat SelengkapnyaJenis Privasi:Terbuka: Semua isi dapat dibaca umum..

Hikayat Bunga Kemuning

Once upon a time, there was a king who had ten daughters are beautiful. The king is known as a wise king. But he was too busy with his leadership, so he can not afford to educate their children. The king’s wife had died in childbirth his youngest son, so that the king’s son raised by the host caregivers. Daughters of the King to be spoiled and mischievous. They just love to play in the lakes. They do not want to learn and also did not want to help their father. Frequent quarrels between them.
Tenth daughter is named with the names of colors. Eldest daughter named Princess pink. Her sisters was named Miss Orange, Indigo Princess, Miss Green, Miss Grey, Miss Orange, Princess and Princess Yellow rosy, which they dress the same color with their names. That way, the king who is old can recognize them from afar. Despite their beauty is almost the same, the youngest daughter of the Yellow slightly different, he did not look spoiled and mischievous. Instead he was always cheerful and smiling and friendly to anyone. He preferred to travel with a host nanny than with her sisters.

One day, the king was about to go away. He gathered all the daughters of his daughter. “I’m going to go far and long. By-by what do you want? “Asked the king.

“I like expensive jewelry,” said Princess pink.

“I want a shiny silk-sheen,” said Miss Orange. 9 children the king asked the most expensive gift on their father. But that’s not the Yellow Princess. He thought for a moment, then holds her father’s arm.

“Dad, I just want dad back safely,” he said. Her brothers laughing and jeering.

“My son, really good speech. Of course I will bring you back safe and beautiful gifts for you, “said the King. Shortly
later, the king went away.

During the king went, the daughter of the more mischievous and lazy. They often host nannies snapped and told the waiter to obey them. Due to busy to obey the request of the princess who’s cranky, waiters do not have time to clean the palace garden. Yellow is very sad to see her daughter because the park is a favorite place of his father. Without hesitation, Miss Yellow broom and start cleaning the park. Dirontokkannya dry leaves, weed removal, and tree branches dipangkasnya up neatly. Initially the host caregivers forbid it, but still insisted on doing the Yellow Princess. His older brother saw his sister Princess Yellow sweeping, laughing out loud. “Look it seems we have a new maid,” said one of them.

“Hey waiter! There is still a dirt ya! “Said one another, throwing garbage. Palace garden is neat, back in disarray. Yellow Princess silent and sweep garbage. These events occur over and over again until exhaustion Yellow Princess. In his heart he could feel the suffering of the servant who was forced to comply with various orders of his brothers.

“You guys are really outrageous. It should not have to bring my father anything for you. Usually only interfere! “Said Miss Yellow angrily.

“It’s ah, I’m bored. We bathe in the lake! “Said Miss Nila. They left the Yellow Princess alone. That happens every day, until their father came home. When the king arrived at the palace, the ninth daughter is still playing in the lake, while the Yellow Princess is arranging flowers on the terrace of the palace. Knowing this, the king became very sad.

My son is diligent and considerate! Your father can not afford to give anything more than this green stone necklace, instead of yellow your favorite color! “Said the King. King had been searching for a yellow stone necklace in various countries, but it was never found.

“Please Daddy, do not why. Green stone was beautiful! See, matched correctly with the yellow shirt, “said Miss Yellow gently.

“Importantly, the father had returned. I’ll make you hot tea to my father, “she said again. When Miss Yellow is making tea, her brothers arrive. They are noisy looking for gifts and show it off each other. No one remembered the Yellow Princess, let alone ask for prize.

The next day, Green saw Princess Yellow Princess wearing her new necklace. “O my brother, really nice necklace! The necklace should be mine, because I was Miss Green! “He said with envy.

“My father gave it to me, not you,” said Princess Yellow. Hear it, Miss Green to be angry. He was soon looking for his brothers and incite them.

“The necklace was mine, but he took it from his pocket a father. We must teach him to do good! “Said Miss Green. They then agreed to rob the necklace. Shortly thereafter, Yellow Princess appeared. Her brothers caught her and hit her head. Not unexpectedly, the blow causing the Yellow Princess died.

“Gosh! We must bury him, “exclaimed Miss Orange. They carry the rollicking Yellow Princess, and then buried in the palace garden. Green’s daughter come to bury a green stone necklace, because she did not want her anymore. When the king search for the Yellow Princess, no one knows where the daughter was gone. Her brothers were silent. The king was very angry. “O the guards! Search and find Yellow Princess, “he cried.

Of course no one could find it. For days, weeks, months, no one managed to find it. The king was very sad. “I am a bad father,” he said. “Let the children sent to a distant place to learn and hone manners!” So he sent the daughter-daughter to school in a distant land. King himself often pensive in the palace garden, sadly lost Yellow Princess thought without trace.

One day, grow a plant on the graves Yellow Princess. The king was surprised to see it. “The plant is this? The trunk is like princess robe, round shiny leaves like green stone necklace, flowers yellowish white and very fragrant! This plant reminds me of Princess Yellow. Well, I called it Myrtle.! “Said the king is pleased. Since then the yellow flower gets its name. In fact, the yellow flowers can be used to scent the hair. The trunk is used to create beautiful boxes, while the bark is made into powder. Once dead, still gives good Yellow Princess.

CLEVER ELSIE

There was once a man who had a daughter who was called Clever Elsie. And when she had grown up her father said: ‘We will get her married.’ ‘Yes,’ said the mother, ‘if only someone would come who would have her.’ At length a man came from a distance and wooed her, who was called Hans; but he stipulated that Clever Elsie should be really smart. ‘Oh,’ said the father, ‘she has plenty of good sense’; and the mother said: ‘Oh, she can see the wind coming up the street, and hear the flies coughing.’ ‘Well,’ said Hans, ‘if she is not really smart, I won’t have her.’ When they were sitting at dinner and had eaten, the mother said: ‘Elsie, go into the cellar and fetch some beer.’ Then Clever Elsie took the pitcher from the wall, went into the cellar, and tapped the lid briskly as she went, so that the time might not appear long. When she was below she fetched herself a chair, and set it before the barrel so that she had no need to stoop, and did not hurt her back or do herself any unexpected injury. Then she placed the can before her, and turned the tap, and while the beer was running she would not let her eyes be idle, but looked up at the wall, and after much peering here

and there, saw a pick-axe exactly above her, which the masons had accidentally left there.
Then Clever Elsie began to weep and said: ‘If I get Hans, and we have a child, and he grows big, and we send him into the cellar here to draw beer, then the pick-axe will fall on his head and kill him.’ Then she sat and wept and screamed with all the strength of her body, over the misfortune which lay before her. Those upstairs waited for the drink, but Clever Elsie still did not come. Then the woman said to the servant: ‘Just go down into the cellar and see where Elsie is.’ The maid went and found her sitting in front of the barrel, screaming loudly. ‘Elsie why do you weep?’ asked the maid. ‘Ah,’ she answered, ‘have I not reason to weep? If I get Hans, and we have a child, and he grows big, and has to draw beer here, the pick-axe will perhaps fall on his head, and kill him.’ Then said the maid: ‘What a clever Elsie we have!’ and sat down beside her and began loudly to weep over the misfortune. After a while, as the maid did not come back, and those upstairs were thirsty for the beer, the man said to the boy: ‘Just go down into the cellar and see where Elsie and the girl are.’ The boy went down, and there sat Clever Elsie and the girl both weeping together. Then he asked: ‘Why are you weeping?’ ‘Ah,’ said Elsie, ‘have I not reason to weep? If I

get Hans, and we have a child, and he grows big, and has to draw beer here, the pick-axe will fall on his head and kill him.’ Then said the boy: ‘What a clever Elsie we have!’ and sat down by her, and likewise began to howl loudly. Upstairs they waited for the boy, but as he still did not return, the man said to the woman: ‘Just go down into the cellar and see where Elsie is!’ The woman went down, and found all three in the midst of their lamentations, and inquired what was the cause; then Elsie told her also that her future child was to be killed by the pick-axe, when it grew big and had to draw beer, and the pick-axe fell down. Then said the mother likewise: ‘What a clever Elsie we have!’ and sat down and wept with them. The man upstairs waited a short time, but as his wife did not come back and his thirst grew ever greater, he said: ‘I must go into the cellar myself and see where Elsie is.’ But when he got into the cellar, and they were all sitting together crying, and he heard the reason, and that Elsie’s child was the cause, and the Elsie might perhaps bring one into the world some day, and that he might be killed by the pick- axe, if he should happen to be sitting beneath it, drawing beer just at the very time when it fell down, he cried: ‘Oh, what a clever Elsie!’ and sat down, and likewise wept with them. The bridegroom stayed upstairs alone for along

time; then as no one would come back he thought: ‘They must be waiting for me below: I too must go there and see what they are about.’ When he got down, the five of them were sitting screaming and lamenting quite piteously, each out- doing the other. ‘What misfortune has happened then?’ asked he. ‘Ah, dear Hans,’ said Elsie, ‘if we marry each other and have a child, and he is big, and we perhaps send him here to draw something to drink, then the pick-axe which has been left up there might dash his brains out if it were to fall down, so have we not reason to weep?’ ‘Come,’ said Hans, ‘more understanding than that is not needed for my household, as you are such a clever Elsie, I will have you,’ and seized her hand, took her upstairs with him, and married her.
After Hans had had her some time, he said: ‘Wife, I am going out to work and earn some money for us; go into the field and cut the corn that we may have some bread.’
‘Yes, dear Hans, I will do that.’ After Hans had gone away, she cooked herself some good broth and took it into the field with her. When she came to the field she said to herself: ‘What shall I do; shall I cut first, or shall I eat first? Oh, I will eat first.’ Then she drank her cup of broth and when she was fully satisfied, she once more said: ‘What shall I do? Shall I cut first, or shall I sleep first? I will sleep

first.’ Then she lay down among the corn and fell asleep. Hans had been at home for a long time, but Elsie did not come; then said he: ‘What a clever Elsie I have; she is so industrious that she does not even come home to eat.’ But when evening came and she still stayed away, Hans went out to see what she had cut, but nothing was cut, and she was lying among the corn asleep. Then Hans hastened home and brought a fowler’s net with little bells and hung it round about her, and she still went on sleeping. Then he ran home, shut the house-door, and sat down in his chair and worked. At length, when it was quite dark, Clever Elsie awoke and when she got up there was a jingling all round about her, and the bells rang at each step which she took. Then she was alarmed, and became uncertain whether she really was Clever Elsie or not, and said: ‘Is it I, or is it not I?’ But she knew not what answer to make to this, and stood for a time in doubt; at length she thought: ‘I will go home and ask if it be I, or if it be not I, they will be sure to know.’ She ran to the door of her own house, but it was shut; then she knocked at the window and cried: ‘Hans, is Elsie within?’ ‘Yes,’ answered Hans, ‘she is within.’ Hereupon she was terrified, and said:
‘Ah, heavens! Then it is not I,’ and went to another door;
but when the people heard the jingling of the bells they

would not open it, and she could get in nowhere. Then she ran out of the village, and no one has seen her since.